Atlet-atlet wanita tuntut perubahan dalam peraturan seragam yang sudah tidak relevan.

Atlet-atlet wanita tuntut perubahan dalam peraturan seragam yang sudah tidak relevan.

SBOBET – Pada kejuaraan olahraga Euro 2021, Federasi Bola Voli Eropa (EHF) menjatuhkan hukuman denda sebesar € 1.500 kepada tim bola voli pantai wanita dari Norwegia karena mengganti bikini dengan mengenakan celana pendek. EHF menganggapnya sebagai kasus “pakaian yang tidak pantas”. EHF mengatakan para pemain tidak mematuhi peraturan seragam atlet, yang mengharuskan wanita untuk mengenakan bawahan celana bikini yang telah ditentukan oleh Federasi Bola Voli Internasional.

Di sisi lain, para pemain bola voli pantai pria bebas mengenakan celana pendek sepanjang 10 sentimeter di atas lutut asalkan tidak “terlalu longgar”. Kenyataan tersebut tentu saja membuat dahi berkerut dan juga menimbulkan tanda tanya. Sebenarnya apa yang menjadi dasar peraturan mengenai seragam yang harus dipakai para atlet dan siapa yang membuat peraturan tersebut.

Begitu permasalahan ini mencuat dan menjadi bahan pembicaraan di banyak media, Komite Olimpiade Internasional (IOC), badan yang bertanggung jawab menyelenggarakan Olimpiade, menyatakan bahwa mereka tidak bertanggung jawab untuk menetapkan peraturan mengenai seragam. Dengan menambahkan, telah menyerahkan kepada federasi internasional dari masing-masing cabang olahraga untuk memutuskan. Namun Federasi Olahraga Internasional kemudian mengklaim mereka tidak mengumumkan kriteria mereka untuk peraturan seragam atlet. Klasik!

Helen Jefferson Lenskyj, seorang profesor di Universitas Toronto dan penulis “The Olympic Games: A Critical Approach”, mengatakan bahwa dia melihat diskriminasi gender jelas-jelas terjadi. Terutama mengingat banyak federasi olahraga yang sebagian besar masih dikuasai dan dijalankan oleh laki-laki.

Janice Forsyth, mantan direktur Western University’s International Center for Olympic Studies di Ontario, mengatakan Federasi Olahraga Internasional mencoba untuk menarik perhatian penonton laki-laki heteroseksual. Dan membujuk mereka agar mau menonton olahraga yang dilakukan oleh atlet wanita. Tujuannya adalah tidak lain dan tidak bukan untuk meningkatkan minat penonton sehingga berpotensi menarik sponsor dan membuatnya lebih menguntungkan. Namun cara seperti ini menciderai tekad dan kerja keras atlet wanita yang seharusnya tidak dijadikan sebagai “obyek” semata.

Sebenarnya bukan hanya baru-baru ini saja mulai banyak atlet wanita yang menentang peraturan seragam ini. Pada tahun 1919, Suzanne Lenglen atlet tenis perempuan asal Prancis, menarik perhatian karena menolak mengenakan korset, yang saat itu menjadi bagian dari pakaian standar pemain tenis wanita. Dan, daripada memakai sepatu bot dengan tumit, Lenglen mengenakan sepatu datar bersol karet. Alih-alih tampil seperti yang diharapkan, Langlen lebih memilih membuktikan keganasannya di lapangan dengan mengenakan pakaian yang membuatnya lebih bebas bergerak dan memenangkan pertandingan.

Selain tim voli pantai wanita Norwegia, Tim gimnastik Jerman pun melakukan hal yang sama. Dalam upaya untuk mencegah seksualisasi tubuh dan olahraga yang mereka dalami. Dan juga untuk merasa nyaman saat bertanding, tim senam Jerman mengenakan pakaian seluruh tubuh atau yang sering disebut body-suit yang mencapai mata kaki mereka.

 

“Kami ingin menunjukkan bahwa setiap wanita memiliki hak untuk memutuskan apa yang akan dikenakan,” kata Elisabeth Seitz, pesenam Olimpiade Jerman berusia 27 tahun.

Dan buntut dari protes yang dilakukan oleh tim voli pantai Norwegia, Federasi Bola Voli Internasional akhirnya menanggapi tuduhan seksisme yang meluas dengan mengubah aturannya seputar seragam wanita dan mengizinkan celana pendek bersepeda dan atasan tanpa lengan untuk dikenakan selama bertanding.