Skandal rasisme yang terjadi di dunia olahraga

Skandal rasisme yang terjadi di dunia olahraga

SBOBET88 – Rasisme atau rasialisme adalah paham bahwa ras sendiri adalah ras yang paling unggul. Rasisme lahir dari sifat manusia sebagai makhluk sosial yang terkadang memandang hubungannya dengan manusia lain dibatasi oleh sekat-sekat perbedaan.

Beberapa orang percaya bahwa mereka lebih baik daripada yang lain, hanya karena warna kulit mereka. Rasisme dapat dipahami secara sederhana sebagai seseorang yang berperilaku berbeda terhadap orang lain berdasarkan warna kulit atau budayanya.

Hingga saat ini paham atau tindakan rasisme, sangat disayangkan masih saja ada dan terjadi secara nyata ataupun yang terselubung ditengah-tengah masyarakat di seluruh permukaan bumi ini. Bahkan banyak ditemukan tindakan-tindakan yang didasari oleh paham rasisme yang dilakukan oleh orang-orang berpengaruh di dunia olahraga. Dan berikut ini adalah 5 contoh kasus rasisme yang pernah menghebohkan dunia olahraga.

Kasus 1. Sepak Bola – Luis Suarez dan Patrice Evra

Pada laga Premier League 2011 – 2012, ketika Liverpool menghadapi Manchester United, Suarez yang kali itu membela klubnya, Liverpool dituduh menggunakan bahasa rasisme terhadap Evra.

Menurut laporan yang diterbitkan Football Associations pada 2012, Suarez mengatakan kepada Evra: “Porque tu eres negro”. ‘Negro’ berarti “hitam” dalam bahasa Spanyol.

Evra mengatakan bahwa ketika Suarez mengeluarkan kalimat tersebut, Evra memahaminya sebagai ‘Karena anda seorang N****’. Evra yang berasal dari Perancis memahami kata yang digunakan Suarez itu sebagai ‘N****’ yang merupakan salah satu bahasa rasisme yang digunakan orang berkulit putih kepada orang berkulit hitam pada masa Apartheid.

Akibat tindakan tidak terpuji itu, Suarez diskors delapan pertandingan dan didenda £40.000 atau sekitar Rp. 775juta. Dan ketika keduanya dipertemukan kembali di Old Trafford, Suarez berulah lagi dengan menolak untuk menjabat tangan Evra sebelum pertandingan. Namun kemudian Suarez dan manajer tim Liverpool saat itu Kenny Dalgish meminta maaf atas insiden memalukan tersebut.

Dalam dunia sepakbola, tindakan rasisme seperti yang dialami Evra bukanlah suatu hal yang baru. Rasisme hingga kini masih menjadi penyakit dalam sepakbola yang belum ditemukan penawarnya. Tindakan rasisme sering terjadi didalam lapangan hijau hingga ke bangku penonton. Seperti kasus yang pernah menimpa Dani Alves yang ketika itu bermain untuk klub Barcelona dilempar pisang oleh pendukung tim lawan.

Kasus 2. Tinju – Floyd Mayweather Jr. dan Manny Pacquiao

Dalam video berdurasi sekitar 10 menit yang juga diposting di YouTube, Mayweather mengucapkan bahasa rasisme yang bertubi-tubi kepada lawannya yang dijuliki PacMan, Manny Pacquiao yang berasal dari Filipina. Mayweather menyebut Pacquiao dengan sebutan ‘litte yellow chump’ yang artinya orang bodoh bertubuh kecil berwarna kuning. Ras Asia dibeberapa belahan dunia memiliki sebutan rasisme yakni ‘yellow’ karena warna kulit yang kita miliki.

Selain itu, Mayweather juga mengolok-olok fisik Pacquiao dengan ‘midget’ sebutan kasar untuk orang kerdil, dimana orang-orang yang memiliki kelainan genetik dan memiliki tubuh yang kerdil menganggap sebutan ‘midget’ adalah sebuah pelecehan yang sangat menyinggung.

Tidak berhenti disana, Mayweather menambahkan bahwa dia akan mengalahkan Pacquiao dan akan menyuruh Pacquiao membuat sushi dan memasak nasi untuknya. ‘membuat sushi’ dan ‘nasi’ adalah beberapa dari banyak stereotipe yang diberikan orang ras non-asia kepada ras asia.

Pacquiao menanggapinya dengan mengatakan bahwa dia hanya mendengar berita mengenai video tersebut namun tidak menontonya. Tapi dia mengomentari bahwa isi video itu ‘tidak berpendidikan’. Pacquiao memilih untuk focus pada pertandingan yang akan dijalani ketika itu, melawan Antonio Margarito.

Kasus 3. Softball Amerika – Yuli Gurriel dan Yu Darvish.

Pada World Series 2017 antara Los Angeles Dodgers dan Houston Astros, pemain Houston, Yuli Gurriel membuat gestur rasisme terhadap pemain Los Angeles berdarah Jepang, Yu Darvish. Gurriel juga menggunakan kata rasisme “chinito,” istilah bahsaa Spanyol yang artinya ‘bocah kecil Cina’.

Padahal Gurriel pernah menghabiskan satu musim bermain di Jepang pada 2014 dan mengetahui betul bahwa kata yang digunakan tersebut dianggap menyinggung oleh orang Asia. Dalam permintaan maafnya dia menyebutkan bahwa di negara asalnya, Cuba semua orang disana menyebut orang-orang yang berasal dari negara-negara Asia, seluruhnya sebagai ‘Cina’. Dia menambahkan bahwa dia tidak bermaksud untuk menyinggung Yu Darvish ataupun orang Jepang lainnya.

Gurriel dikabarkan menerima ganjaran hukuman atas tidakan rasisme tesrebut. Namun tidak diberitakan secara detail hukuman yang diterima.

Kasus 4. Keseluruhan Olimpiade 1936 di Berlin, Jerman.

Dibawah kepemimpinan Partai Nazi, Adolf Hitler yang menjabat sebagai kanselir Jerman dengan cepat mengubah demokrasi menjadi kediktatoran. Menganiaya orang Yahudi, semua lawan politik, dan lainnya. Nazi mengendalikan semua aspek kehidupan di Jerman juga meluas ke olahraga.

Citra olahraga Jerman pada tahun 1930-an adalah salah satu dari bentuk obsesi Hitler yang mengagung-agungkan ras Aryan, yang diyakini merupakan ras paling murni di muka bumi. Yang memiliki ciri-ciri kulit pucat, rambut pirang dan bermata biru. Oleh sebab itu kebijakan ‘khusus Aryan’ pun diterapkan di semua organisasi atletik Jerman. Golongan ‘Non-Aryan’, yakni Yahudi atau individu dengan orang tua Yahudi dan Roma (Gipsi) tidak diperkenankan memasuki fasilitas dan mengikuti asosiasi olahraga apapun di Jerman.

Tidak mengherankan apabila banyak orang menyebut Olimpiade Musim Panas 1936 yang diadakan di Berlin – Jerman itu sebagai Olimpiade Nazi 1936. Selama dua minggu saat menjadi tuan rumah pertandingan, berharap  membuat banyak pengunjung asing yang berada di Jerman terkesan, Adolf Hitler menyamarkan agenda antisemit dan ekspansionisnya dengan secara sementara meliburkan kegiatan anti-Yahudi, seperti menghapus tanda-tanda larangan orang Yahudi dari tempat-tempat umum. Mereka menghadirkan kepada penonton asing citra Jerman yang damai dan toleran.

Pencitraan lainnya yang dilancarkan oleh Hitler adalah mengizinkan atlit cabang anggar, Helene Mayer satu-satunya ‘non-Aryan’, karena ayahnya adalah orang Yahudi untuk berkompetisi mewakili Jerman di Olimpiade di Berlin. Mayer memenangkan medali perak di anggar individu wanita dan seperti semua peraih medali lainnya untuk Jerman, memberi hormat Nazi di podium.