Super Women pencetak sejarah di Olympics 2020

Super Women pencetak sejarah di Olympics 2020

SBOBET88 — Mari simak wanita-wanita tangguh dan kisah perjuangan mereka yang berhasil mencatatkan sejarah di Olimpiade 2020 di Tokyo – Jepang berikut ini:

  • Indonesia – Greysia Polii & Apriyani Rahayu

BRAVO! dan selamat atas mendali emas pertama untuk Indonesia di ajang Olimpiade 2020 yang disumbangkan oleh pasangan ganda putri cabang bulutangkis Greysia Polii dan Apriani Rahayu. Sejarah pun tercatat, mereka adalah ganda putri Indonesia pertama yang berhasil masuk ke babak final dan meraih mendali emas di Olimpiade. Pasangan yang notabene adalah tim underdog ini berhasil mengalahkan ganda putri andalan asal China, Jia Yifan & Chen Qingchen dalam dua set langsung 21-19 dan 21-15.

Greys dan Apri, sapaan akrab mereka tampil sama baik dan sangat bersemangat. Dalam pertandingan mereka kerap kali saling melempar senyum dan dukungan satu sama lain dengan positive attitude untuk menjaga ritme dan kekompakan. Kemenangan yang mereka raih merupakan buah manis dari kerja keras dan perjuangan mereka selama ini.

Contohnya, Greysia pernah dua kali gagal di ajang Olimpiade dan hampir memutuskan untuk pensiun ketika pasangannya sebelum Apriyani mengalami cidera dan terpaksa harus gantung raket. Namun berkat bujukan dari pelatih Eng Hian, Greysia pun melanjutkan perjuangannya. Hal itu dinyatakan ketika sempat menjadi kameo di vidio klip musik milik sahabat karibnya, penyanyi dan artis kenamaan Agnes Monica yang liris tahun 2012 lalu. Di vidio itu Greysia muncul sambil memegang spanduk bertuliskan “I wanna be … A world champion badminton athlete” yang artinya: aku mau menjadi atlit juara dunia bulutangkis. Dan sembilan tahun kemudian hal tersebut pun menjadi kenyataan.

Pelatih Eng Hian lalu memasangkan Greysia dengan Apriyani Rahayu, perempuan kelahiran Lawulo, Sulawesi Tenggara yang lebih muda 10 tahun. Perjalanan Apri pun tidak bisa dibilang mulus. Terlahir dari keluarga yang sederhana, dulu untuk bisa bermain bulutangkis Apri menggunakan raket dari kayu yang dibuat oleh ayahnya. Dia pun pernah hampir ditolak oleh klub dan diragukan karena posturnya yang pendek. Namun berkat kerja keras, dedikasi  dan dukungan kedua orangtuanya dia terus melaju sampai mencapai puncak kesuksesan.

Selamat dan terima kasih sekali lagi untuk Greysia Polii dan Apriyani Rahayu! Indonesia bangga.

  • Filipina – Hidilyn Diaz

Mendali emas untuk yang pertama kalinya sepanjang sejarah keikutsertaan Filipina di Olimpiade dipesembahkan oleh seorang atlet perempuan bernama Hidilyn Diaz. Hidilyn mematahkan kutukan tanpa mendali emas yang telah berlangsung selama 97 tahun bagi Filipina itu melalui cabang olahraga angkat besi putri 55kg. Total berat angkatnya adalah 224kg, sebuah rekor Olimpiade yang layak atas mendali emas. Hal tersebut menjadi penggenapan atas janji yang pernah dia ucapkan pada akun Instagramnya ketika dikarenakan tidak mempunyai dana dia terpaksa meminta donasi secara umum agar dirinya bisa berkompetisi di Tokyo.

“Aku ingin berkata untuk anak-anak muda Filipina, bahwa kalian juga bisa memiliki              ‘mimpi emas”.

 

  • Suriah – Hend Zaza

Hend Abdul Rauf Zaza atau Hend Zaza mencatat sejarah sebagai atlet paling muda di Olimpiade kali ini. Usia yang masih sangat muda yaitu 12 tahun dan meski terlahir dan besar di daerah perang Suriah, tidak mematahkan semangat remaja ini bertanding di cabang tenis meja. Dan meskipun tidak menang, Hend Zaza tampil baik dan percaya diri meski usia lawan jauh diatasnya. Bahkan lawannya pun memuji dirinya memiliki potensi yang besar dan yakin apabila Zaza terus berlatih, diusianya yang ke 14 atau 16 Zaza akan menjadi lawan yang kuat.

Zaza yang secara resmi telah diundang untuk berlatih di komite Olimpiade China menyatakan dirinya sudah menanti-nantikan dan sangat bersemangat untuk mendapatkan pelatihan sama seperti yang pemain-pemain China dapatkan. Dirinya berharap kelak bisa menjadi pemain tenis meja sekelas panutannya Ding Ning, pemain andalan China yang telah mengantongi 3 mendali emas Olimpiade.