SBOBET88

Berita Dan Informasi Olahraga Terkini

Boxing

Selamat Jalan, “The Hitman”: Mengenang Karier Gemilang Legenda Tinju Ricky Hatton

SBOBET88 – Dunia tinju berduka. Mantan juara dunia asal Inggris, Ricky “The Hitman” Hatton, telah meninggal dunia pada usia 46 tahun. Kabar mengejutkan ini dikonfirmasi setelah ia ditemukan di rumahnya di Greater Manchester pada Minggu pagi, 14 September 2025. Menurut pihak kepolisian, tidak ada keadaan yang mencurigakan terkait kematiannya.

Kepergian Hatton meninggalkan suka mendalam di hati para penggemar olahraga, terutama mereka yang mengikuti perjalanan kariernya yang luar biasa. Mantan juara dunia di dua kelas berbeda ini meninggalkan warisan berupa pertarungan-pertarungan ikonik dan semangat juang yang tak akan pernah padam. Mari kita kenang kembali perjalanan hidup dan kariernya yang fenomenal.

Lahir di Stockport, Greater Manchester, pada 6 Oktober 1978, Ricky Hatton memulai karier profesionalnya pada tahun 1997. Sejak awal, ia sudah menarik perhatian dengan gaya bertarungnya yang sangat agresif, tanpa henti menekan lawan dengan pukulan ke arah tubuh (body shot) yang menjadi ciri khasnya. Didukung oleh basis penggemar yang luar biasa fanatik, setiap pertarungan Hatton terasa seperti sebuah festival, baik di Inggris maupun saat ia membawa puluhan ribu pendukungnya ke Las Vegas.

Dengan rekor profesional 45 kemenangan (32 KO) dan hanya 3 kekalahan, Hatton adalah kekuatan dominan di divisi welter ringan dan welter pada masanya. Berikut adalah beberapa pencapaian dan pertarungan paling berkesan:

Puncak karier Hatton tidak diragukan lagi adalah malam saat ia merebut gelar juara dunia IBF kelas welter ringan.

  • Melawan Kostya Tszyu (2005): Di hadapan pendukungnya yang memadati M.E.N Arena di Manchester, Hatton yang saat itu tidak diunggulkan berhasil mengalahkan juara bertahan yang legendaris, Kostya Tszyu. Tszyu menyerah dan tidak melanjutkan pertarungan setelah ronde ke-11 dalam sebuah laga yang brutal dan menguras tenaga. Kemenangan ini melambungkan nama Hatton ke panggung elite tinju dunia.
  • Melawan Floyd Mayweather Jr. (2007): Meski berakhir dengan kekalahan KO pertama dalam kariernya, pertarungan melawan Floyd Mayweather di Las Vegas adalah bukti betapa besarnya nama Hatton. Ia berhasil menarik puluhan ribu penggemar Inggris untuk menyeberangi Atlantik, menciptakan atmosfer yang luar biasa.
  • Melawan Manny Pacquiao (2009): Pertarungan ini menjadi salah satu laga paling berat bagi Hatton, di mana ia harus menelan kekalahan KO telak di ronde kedua dari legenda Filipina, Manny Pacquiao. Kekalahan ini sangat memukulnya dan menjadi salah satu pemicu masalah pribadinya di kemudian hari.

Setelah pensiun, Ricky Hatton secara terbuka berbicara tentang perjuangannya melawan depresi, serta masalah dengan minuman beralkohol dan obat-obatan. Pertarungannya yang paling berat ternyata terjadi di luar ring. Namun, dengan semangat juang yang sama seperti yang ia tunjukkan di atas kanvas, Hatton berjuang untuk bangkit.

Ia menemukan kembali gairahnya pada tinju dengan menjadi seorang pelatih, salah satunya melatih putranya sendiri, Campbell Hatton, yang mengikuti jejaknya sebagai petinju profesional. Ia juga sempat kembali ke ring untuk sebuah laga ekshibisi, menunjukkan bahwa kecintaannya pada olahraga ini tidak pernah luntur.

Baru-baru ini Hatton tengah mempersiapkan diri untuk kembali ke dunia tinju profesional, kali ini melawan Eisa Al Dah, 46, dalam pertarungan kelas menengah di Dubai. Dalam salah satu unggahan terakhirnya di Instagram , mantan juara dunia kelas welter ringan terpadu itu membagikan kemajuan latihannya kepada para penggemar yang menantikan kembalinya sang ikon ke atas ring.

Hatton menyampaikan bahwa ia tengah fokus pada kebugarannya melalui beberapa postingan sebelum kematiannya, menjelang pertandingan yang dijadwalkan hanya dalam waktu tiga bulan. “Lari malam sudah di kantong. Jangan khawatir tentang itu,” disertai video dirinya berlatih di atas treadmill, sambil merekam dirinya sendiri basah kuyup oleh keringat.

Kepergian Ricky Hatton adalah kehilangan besar. Ia akan selalu dikenang bukan hanya sebagai seorang juara dunia, tetapi sebagai “The People’s Champion”—juara di hati rakyat—yang bertarung dengan segenap hati dan tidak pernah melupakan dari mana ia berasal. Selamat jalan, Champ.