Ada apa dengan Aremania dan #logosingabertindik?
SBOBET88 – Media sosial resmi Arema FC belakangan ini diramaikan oleh serbuan tagar #logosingabertindik. Tagar ini bukan sekadar tren, melainkan sebuah seruan keras dari sebagian Aremania yang menuntut manajemen klub untuk mengambil langkah signifikan: mengganti logo klub yang saat ini digunakan (Singa Mengepal) dengan logo Singa Bertindik yang dianggap sebagai logo asli dan bersejarah.
Lalu, apa yang memicu desakan ini dan mengapa masalah logo menjadi begitu sensitif bagi suporter di tengah bergulirnya kompetisi?
Api polemik ini kembali berkobar setelah adanya keputusan dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Kemenkumham diketahui telah menolak permohonan pendaftaran merek Arema dengan Logo Singa Bertindik yang diajukan oleh pihak yang terkait dengan Yayasan Arema/Arema Indonesia.
Ironisnya, keputusan ini justru menegaskan bahwa PT Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia (PT AABBI), entitas yang menaungi Arema FC, adalah pemegang hak merek resmi atas nama dan logo klub yang saat ini digunakan (Singa Mengepal).
Bagi sebagian Aremania, penolakan hukum terhadap logo bersejarah tersebut bukanlah akhir, melainkan sebuah momentum untuk bertindak. Mereka melihat ini sebagai kesempatan terakhir bagi manajemen Arema FC yang sah untuk “menyelamatkan” identitas historis klub dengan menggunakannya kembali, sebelum logo tersebut hilang dalam pusaran legalitas.
Desakan untuk menggunakan Singa Bertindik tidak lepas dari masalah identitas historis dan dualitas yang telah lama menghantui Arema.
Logo Singa Bertindik yang berbentuk perisai adalah lambang yang digunakan Arema sejak didirikan pada 11 Agustus 1987. Bagi Aremania, logo inilah yang paling autentik dan sarat akan nilai sejarah. Mereka menganggap Singa Bertindik sebagai representasi sejati dari “Ongis Nade” (Singa Edan) yang mereka dukung, menjadikannya simbol yang sakral dalam memori kolektif suporter.
Sebaliknya, logo Singa Mengepal yang saat ini digunakan seringkali dikaitkan dengan era dualisme. Penggunaannya dianggap tidak sepenuhnya mewakili semangat persatuan dan sejarah murni klub di mata para suporter garis keras.
Oleh karena itu, pergantian logo menjadi Singa Bertindik dilihat sebagai upaya untuk: Mengakhiri Perdebatan Identitas, Memperjuangkan Warisan, dan mewujudkan semangat Arema UTAS (Arema Satu).
Desakan identitas ini muncul di tengah ketatnya persaingan di kompetisi kasta tertinggi BRI Super League 2025-2026. Dimana saat ini Arema FC masih berjuang di papan tengah klasemen sementara di posisi ke-9 dengan koleksi 27 poin. Posisi ini jauh dari target manajemen untuk bersaing di papan atas. Konsistensi menjadi pekerjaan rumah terbesar pelatih kepala, mengingat Arema FC seringkali kehilangan poin penuh saat bermain di kandang.
Tekanan dan tuntutan untuk segera berbenah semakin tinggi mengingat jadwal krusial yang menanti di depan mata. Laga berikutnya bagi Arema FC adalah partai akbar Derby Jawa Timur melawan rival abadi, Persebaya Surabaya, yang dijadwalkan pada akhir pekan ini. Laga klasik ini selalu menjanjikan tensi tinggi, di mana hasil pertandingan tidak hanya menyumbang tiga poin, tetapi juga gengsi dan kehormatan.
Skuad Singo Edan dilaporkan menjalani sesi latihan intensif yang fokus pada pembenahan lini pertahanan yang sering rapuh dalam beberapa laga terakhir. Pelatih juga menekankan pentingnya efektivitas serangan balik cepat untuk mengatasi lini tengah Persebaya yang dikenal solid. Kemenangan dalam derby ini tidak hanya akan memperbaiki posisi di klasemen, tetapi juga diharapkan mampu menenangkan gejolak di kalangan Aremania, setidaknya untuk sementara, dan mengalihkan fokus dari polemik logo ke prestasi di lapangan hijau.
